Sejumlah Kota Dunia Terancam Kebanjiran Wisatawan

KEDATANGAN turis baik untuk berwisata maupun keper­luan bisnis tentu saja mengun­tung­kan bagi negara yang dikun­ju­nginya.

Setiap uang yang me­reka ke­luar­kan akan menambah devisa dan akhirnya uang tersebut bisa di­gu­nakan untuk berbagai ke­bu­tuhan dan keperluan negara.

Namun, kedatangan turis juga bisa menjadi bencana, apalagi jika jum­lahnya tak terbendung atau overtourism. Masalah over­tourism bukanlah hal yang baru, beberapa tahun terakhir beberapa wilayah di suatu negara tengah berjuang melepaskan diri dari belenggunya, seperti Australia, Venesia, Jepang hingga Belanda.

Dilansir dari The Points Guy, World Tourism and Travel Council (WTTC) dan Jones Lang La­Salle (JLL) melakukan sebuah stu­di terkait potensi ancaman over­tou­rism yang dapat menimpa bebe­rapa wilayah di suatu negara pada 2030 mendatang.

Studi WTTC dilakukan setelah adanya laporan Responsible Tra­vel yang menemukan 98 destinasi di 63 negara sedang berjuang me­ngatasi overtourism.

Sebagai jawaban, WTTC me­nga­nalisis 50 kota di seluruh dunia untuk menelusuri daerah mana saja yang tak siap keda­tangan wisata­wan dalam jumlah besar.

Studi ini membagi kota menjadi beberapa kategori berda­sarkan ke­siapan kota tersebut dengan pe­sat­nya pertum­buhan pariwisata.

Kemudian kota-kota tersebut diukur berdasarkan berbagai fak­tor seperti; tenaga kerja, in­fra­struktur, stabilitas, lingkungan, pertumbuhan pariwisata berke­lan­jutan, manajemen pariwisata dan sebagainya.

Selanjutnya, studi ini mem­bandingkan faktor-faktor tersebut dengan pertum­buh­an wisatawan sejak 2017 hingga 2027.

Dari hasil penelitian diketahui bah­wa ada 15 kota yang berpo­tensi menga­lami overtourism ka­rena kondisi pariwisata di wi­layah tersebut sedang berkem­bang na­mun tidak diiringi dengan sumber daya yang sepadan. Ada­pun kota-kota tersebut adalah:

Kuala Lumpur, Malaysia, Istan­bul, Turki, Manila, Filipina, Ja­kar­ta, Indonesia, Kairo, Mesir, Del­hi, India, Bangkok, Thailand , Bo­gota Kolombia, Mumbai, India, Moskow, Rusia, Kota Ho Chi Minh, Vietnam, New Delhi, India, Auckland, Selandia Baru, Seoul, Korea Selatan (Korsel), Sydney, Australia.

Sementara ada Berlin, Dublin, Madrid, London, Miami dan New York City (dan sebagian besar ibu kota Eropa Barat), menjadi ‘pe­main dewasa’. Mereka sudah siap menghadapi kedatangan kun­jungan wisatawan dalam jumlah besar, dan menurut WTTC kota-kota ini juga berada dalam posisi meng­untungkan.

Sedangkan untuk kota-kota pusat keua­ngan seperti; Beijing, Chicago, Hong Kong dan Tokyo, tak banyak menerima kunjungan wisatawan sehingga pertum­buhan pariwisata di kota-kota tersebut tidak mengalami gejolak.

Meskipun overtourism terus menjadi masalah, sektor pariwi­sata begitu penting bagi ekonomi internasional. Menurut laporan WTTC, industri perjalanan mam­pu berkontribusi

sebesar 10,4 persen dari PDB global. Namun yang menjadi masalah bukan pa­da pariwisatanya melain­kan kesiapan suatu wilayah atau negara untuk mengelola industri ter­sebut dengan bijaksana dan ber­kelanjutan.

Sebuah destinasi wisata juga harus kreatif untuk mengelola sek­tor pariwisatanya yang terus me­ningkat. (kprc/tst/es)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *